Nyeri panggul lama (Chronic pelvic pain)

image

PENGANTAR

Hampir sebagian besar wanita pernah mengalami nyeri panggul. Berdasarkan waktu timbulnya nyeri panggul ada yang onsetnya baru (akut) dan lama (kronis). Sampai saat ini nyeri panggul lama masih menjadi masalah utama dan merupakan tantangan bagi penyedia layanan kesehatan. Mengapa?

Karena penyebabnya sampai saat ini masih belum jelas, memiliki riwayat perjalanan yang komplek dan biasanya memberikan respon pengobatan yang tidak memuaskan. Karena mekanismenya masih sedikit terkuak jelas maka penatalaksanaannya masih kurang memuaskan, maka konsekuensinya penatalaksanaannya melibatkan berbagai disiplin ilmu (system muskuloskeletal, neurologis, dan sistem psikiatris).

Sebagian besar keluhan pasien yang mengalaminya mengeluhkan disfungsi kandung kemih dan usus besar, disfungsi seksual dan keluhan-keluhan sistemis lainnya, akibatnya pasien mengalami depresi, cemas dan ketergantungan akan obat.

Disamping itu kalau ditinjau deri segi finansial, di Amerika Serikat hampir $881,5 juta dihabiskan untuk biaya rawat jalan penyakit ini.

 

FREKUENSI

Penyakit ini mengenai 1 dari 7 wanita di Amerika Serikat dan tidak berbeda jauh dibanding dengan belahan dunia lain, sedangkan prevalensinya adalah 39%.

Untungnya penyakit ini tidak menyebabkan kematian. Walaupun demikian penyakit ini menyebabkan penderitaan jangka panjang, gangguan pekerjaan dan masalah keluarga.

Biasanya terjadi pada usia reproduksi, antara 26 – 30 tahun.

 

KLINIS

Pengertian penyakit nyeri panggul lama adalah nyeri nonmenstrual yang berlangsung 3-6 bulan atau lebih dan berlokasi dianatomi panggul, begitu nyerinya sampai mengakibatkan ketidakmampuan fungsional dan memerlukan tindakan medis atau bedah.

Penting sekali untuk memastikan jenis nyerinnya. Tentukan dimana persis lokasinya, faktor pencetusnya (contoh: endometriosis biasanya nyeri timbul setelah koitus, sindrom bendungan panggul berhubungan dengan posisi tubuh dan bertambah buruk diwaktu malam), faktor penyerta, kualitas nyerinya, distribusi nyerinya dan tingkat berat nyerinya. Selain itu catat juga riwayat penyakit dari sistem yang berbeda, riwayat operasi, riwayat seksual, pemeriksaan sistem urologi dan system lain dan jangan lupa untuk melihat status kejiwaan pasien sebelumnya.

Pada pemeriksaan fisik lakukan dalam berbagai posisi (duduk, berdiri, supine dan litotomi). Pada pemeriksaan litotomi perhatikan genitalia luar, lakukan tes cotton-tipped swab untuk evaluasi daerah vestibulum, vaginal cuff, lobang serviks, daerah parservikal dan daerah serviks. Dilanjutkan dengan pemeriksaan tunggal dengan jari, pemeriksaan bimanual dan rektovaginal disemua daerah tersebut. Kalau memang tersedia bisa dilanjutkan pemeriksaan dengan kolposkopi.

Kemudian lanjutkan dengan pemeriksaan pada sistem lainnya, Betty manuver (sindrom piriformis), Obturator sign (disfungsi otot atau fascia obturator), Tes straight-leg raising (hernia diskus radikulopati), psoas sign (disfungsi otot atau fascia psoas) , tes Patrick atau Faber (evaluasi pinggul).

 

PENYEBAB

Penyebab nyeri panggul kronis sangat kompleks, bahkan multiple faktor dapat timbul pada satu pasien.

  • Gangguan reproduksi ekstrauterin
    • Endometriosis
    • Adhesions
    • Adnexal cysts
    • Chronic ectopic pregnancy
    • Chlamydial endometritis or salpingitis
    • Endosalpingiosis
    • Ovarian retention syndrome (residual ovary syndrome)
    • Ovarian remnant syndrome
    • Ovarian dystrophy or ovulatory pain
    • Pelvic congestion syndrome
    • Postoperative peritoneal cysts
    • Residual accessory ovary
    • Subacute salpingo-oophoritis
    • Tuberculous salpingitis
  • Gangguan reproduksi uterus
    • Adenomyosis
    • Chronic endometritis
    • Atypical dysmenorrhea or ovulatory pain
    • Cervical stenosis
    • Endometrial or cervical polyps
    • Leiomyomata
    • Symptomatic pelvic relaxation (genital prolapse)
    • Intrauterine contraceptive device
  • Gangguan urologik
    • Bladder neoplasm
    • Chronic urinary tract infection
    • Interstitial cystitis
    • Radiation cystitis
    • Recurrent cystitis
    • Recurrent urethritis
    • Urolithiasis
    • Uninhibited bladder contractions (detrusor-sphincter dyssynergia)
    • Urethral diverticulum
    • Chronic urethral syndrome
    • Urethral caruncle
  • Gangguan Muskuloskeletal
    • Abdominal wall myofascial pain (trigger points)
    • Compression fracture of lumbar vertebrae
    • Faulty or poor posture
    • Fibromyalgia
    • Mechanical low back pain
    • Chronic coccygeal pain
    • Muscular strains and sprains
    • Pelvic floor myalgia (levator ani spasm)
    • Piriformis syndrome
    • Rectus tendon strain
    • Hernias (eg, obturator, sciatic, inguinal, femoral, spigelian, perineal, umbilical)
  • Gangguan gastrointestinal
  • Gangguan neurologis
    • Neuralgia/cutaneous nerve entrapment (surgical scar in the lower part of the abdomen; usually iliohypogastric, ilioinguinal, genitofemoral, and lateral femoral cutaneous nerves)
    • Shingles (herpes zoster infection)
    • Degenerative joint disease
    • Disk herniation
    • Spondylosis
    • Abdominal epilepsy
    • Abdominal migraine
    • Neoplasia of spinal cord or sacral nerve
  • Gangguan psikologis
    • Personality disorders
    • Depression
    • Sleep disorders
    • Sexual and/or physical abuse

Diagnosis bandingnya

Abdominal Hernias

Lumbar Disc Disease

Chronic Fatigue Syndrome

Lumbar Spondylosis

Adjustment Disorders

Malignant Neoplasms of the Small Intestine

Adnexal Tumors

Mediterranean Fever, Familial

ALA Dehydratase Deficiency Porphyria

Mixed Connective-Tissue Disease

Benign Lesions of the Ovaries

Neurogenic Bladder

Benign Vulvar Lesions

Pelvic Inflammatory Disease

Bipolar Affective Disorder

Perianal Abscess

Bladder Cancer

Perianal Cysts

Carcinoma In Situ of the Urinary Bladder

Porphyria, Acute Intermittent

Cervicitis

Pyelonephritis, Chronic

Ovarian Cancer

Radiation Cystitis

   
   

Colon Cancer, Adenocarcinoma

Rectal Cancer

Colonic Obstruction

Reflex Sympathetic Dystrophy

Constipation

Salpingitis

Cystitis, Nonbacterial

Sleep Disorders

Depression

Somatoform Disorders

Diverticulitis

Ulcerative Colitis

Dysmenorrhea

Urethral Cancer

Endometrial Carcinoma

Urethral Diverticula

Endometriosis

Urethral Diverticulum

Endometritis

Urethral Strictures

Fibromyalgia

Urethral Syndrome

Gonococcal Infections

Urinary Tract Infection, Females

Gynecologic Pain

Urinary Tract Infection, Males

Hemorrhagic Cystitis: Noninfectious

Uterine Cancer

Herpes Zoster

Uterine Prolapse

Inflammatory Bowel Disease

Vaginitis

Infrainguinal Occlusive Disease

Vesicovaginal and Ureterovaginal Fistula

Interstitial Cystitis

Vulvovaginitis

Intestinal Motility Disorders

 

Irritable Bowel Syndrome

 

Penyebab lainnya yang perlu dipertimbangkan:

  • Sistem reproduksi
    • Adenomyosis
    • Adhesions
    • Adnexal tumors
    • Cervical stenosis
    • Dyspareunia
    • Endocervical and endometrial polyps
    • Endometriosis and endosalpingiosis
    • Uterine leiomyomas
    • Ovarian retention syndrome
    • Ovarian remnant syndrome
    • Pelvic varicosities and pelvic congestion syndrome
    • Vulvodynia
    • Pelvic floor relaxation disorders
    • Accessory and supernumerary ovaries
  • Sitem urinaria
    • Chronic and recurrent urinary tract infections
    • Urolithiasis
    • Pelvic floor dysfunction
    • Urethral diverticula
    • Chronic urethral syndrome
  • Sistem gastrointestinal
    • Chronic intermittent bowel obstruction
    • Colitis
    • Chronic constipation
    • Diverticular disease
    • Inflammatory bowel disease
    • Irritable bowel syndrome
    • Peritoneal abscess
  • Penyakit lainnya
    • Hernias (eg, obturator, sciatic, inguinal, femoral, perineal, spigelian, umbilical)
    • Neoplasia of the spinal cord or sacral nerves
    • Mononeuropathy and nerve entrapment
    • Abdominal epilepsy
    • Abdominal migraines
    • Pelvic floor pain syndrome
    • Rectus abdominis pain
    • Faulty posture
    • Bipolar affective disorder and depression
    • Chronic visceral pain syndrome
    • Chronic fatigue syndrome
    • Substance abuse
    • Spinal malformation
    • Spinal tumors 

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium atau pencitraan dilakukan pada pasien nyeri panggul kronis berdasarkan pada kebutuhan untuk menegakkan diagnosis dan membantu menyingkirkan faktor potensial lainnya.

Pemeriksaan laboratorium antara lain; hitung jenis (diff count), tes urin, STD, hormonal, tes TSH,  pemeriksaan feses. Sedangkan pemeriksaan pencitraan antara lain; MRI, CT scan, USG, Foto polos abdomen, Hernografi, Scan tulang, HSG, vaginal sonografi, voiding sistoureterografi, Double-balloon cystourethrography.

Pemeriksaan lainnya, antara lain; endoskopi, laparoskopi, tes urodinamik, elektromiografi, CA 125, eletroensepalografi.

PENGOBATAN

Biasanya kompleks dan memerlukan pengobatan spesifik dan beiringan dengan pengobatan psikologis dan fisik. Diperlukan kerjasama yang baik antara dokter dan pasien dan harus diperlakukan secara individual. Pengobatannya harus realistis dan berfokus pada fungsi normal, kualitas hidup dan mencegah kekambuhan.

Pengobatan farmakoterapi biasanya dimulai dengan pemberian analgetik, dilanjutkan dengan sedatif/antidepresan, fisioterapi dan terapi psikofisiologis.

Pendekatan tindakan bedah biasanya diutamakan yang noninfasif, antara lain; trigger point injection, perieral nerve block, neuroabaltion, Sacral nerve stimulation, presacral neurectomy ,paracervical denervation dan uterovaginal ganglion excision.

FOLLOW UP

Biasanya tidak memerlukan rawat inap dan diobati sebagai pasien rawat jalan.

KOMPLIKASI

Menyebabkan penderitaan jangka panjang, gangguan keluarga, kehilangan pekerjaan, dan beberapa medis yang memerlukan pengobatan jangka panjang.

PERHATIAN KHUSUS

Diberikan pada beberapa keadaan; pasien dengan respon terapi buruk, depresi berat, kecemasan berat, nyeri berlebihan, suka gonta ganti dokter, ketergantungan obat, riwayat pelecehan seksual dan masalah rumah tangga.

Pada ibu hamil sebaiknya hindari pemberian obat-obatan. Mula-mula dapat diberikan pengobatan nonfarmakologi seperti istirahat, kompres panas-dingin, latihan posisi dan peregangan, massage, TENS, terapi relaksasi bila tidak berespon bisa diberikan terapi farmakologi. Parasetamol dan kodein dan digunakan selama kehamilan. Sedangkan pemberian ibuprofen dan aspirin dapat diberikan pada trimester I dan batasi pemakaian benzodiazepine dan barbiturat

 

 

Sun, 11 Jul 2010 @22:55

Buat nama web sesukanya

Cek Nama Domain ?

image

Ask2obgyn

ask2obgyn@gmail.com

Mesin penerjemah
FACEBOOK
KUNJUNGAN

Daftar link
Video dan Gambar
Copyright © 2017 Bung Kemas · All Rights Reserved